Ketika hati mulai pandai merasakan pedih
yang tersisa dalam perjalanan kita
Maka kuijinkan kau tuangkan secawan perih
Ke dalam kalbu tempat semua tentangmu kujaga
Mengingat saat kau mampu tersenyum indah
Ketika tawa renyah menggema
Di dinding-dinding yang kita tempati bersama
Berjalan di hamparan rerumputan basah
Seakan detik-detik sempurna
Dalam rambat sulur-sulur cahaya
Embun sisa malam berkilau indah di binar matamu
Lengan hangat erat mendekap meyakinkanku
Hingga semua hanya sebatas kenangan
Sebab terlalu sakit menahan impian
Engkau semakin terasa jauh
Tak tersentuh
Bandung, Akhir Mei 2008
Penanda Jejak di Kota Impian
Advertisement
Tetap berlari dengan menggenggam erat impian, atau diam dan lepaskan…!
Posted by PRofijo | December 22, 2010, 5:04 pmlariiiiii…..*sembunyi di balik pintu?, genggam dulu, baru buang…* makasih prof…
Posted by drliebig | December 24, 2010, 12:58 amkoq nggak di update lagi..
puisi2nya bagus2
apalagi yg attention buat yg sakit jiwa
hahahahahaha
salam
Posted by Seiri Hanako | December 26, 2010, 12:01 pmitu kisah nyata dan terbukti butuh psikiater…. =P
Posted by drliebig | December 27, 2010, 5:32 pmLari dari masa lalu ya?
tinggalkan masa lalu untuk mengejar pacar baru. Let’s go
Posted by Sky | December 30, 2010, 1:11 pmwah blog ini bagus banget bu
Posted by berpikir positif | January 7, 2011, 7:59 am