Dari ruang praktekku, ingin kuceritakan sepasang suami istri yang hebat. Pak Imam dan Bu Imam. Pada sesi pertama bertemu dengan sepasang suami istri ini adalah ketika sang istri mengeluh pusing dan setelah dicek terteralah tensi darah yang meningkat menjadi 140/90. Dan sebelumnya menyatakan tensinya 160/90. Diagnosisnya: Hipertensi grade I. Kemudian pasien tersebut aku periksa dengan seksama. Dilakukan anamnesis dan akhirnya terkejarlah suatu permasalahan yang cukup serius yang menjadi akar munculnya pusing kepala, hipertensi dan gelisah tadi. Oh my good! Si Ibu adalah seorang pengusaha yang bangkrut, yang tadinya memiliki sebuah pabrik tahu di Karawang dengan 300 karyawan dan memiliki kantor pusat di Jakarta serta pemasaran yang cukup luas di Jabotabek. Bangkrut dan rusak usahanya karena isu pengawet formalin pada tahu yang santer beberapa tahun belakangan ini. Bayangkan! Sebegitu mudahnya Alloh membalikkan keadaan, dari yang kaya raya (definisi kaya itu bukan sesorang yang bergaji 40juta tetapi seorang yang mampu menggaji orang lain 40juta, begitukah?) menjadi jatuh miskin begitu saja! Sulitnya lagi, anak-anak mereka tidak mau mengerti keadaan ini dan cenderung menyalahkan orang tua mereka atas kebangrutan tersebut. Sang anak, yang paling kencang mengkonfrontir kedua orang tua tersebut adalah seorang dokter muda dari fakultas kedokteran universitas negeri di Bandung ini. Tidak bisa menerima keadaan orang tuanya karena telah terbiasa dengan kemewahan sejak kecil (ditambah lagi dia akhirnya diputusin oleh sang pacar karena tongkrongan sang cowok udah beda-dari tadinya mobil, lengkap dengan AC lalu sekarang hanya motor bebek saja…*duhhh kasihannya! Sang calon dokter tidak mau memeriksa sang ibu, tidak mau menensi ataupun mengontrol tensi sang ibu karena tidak suka keadaan ibunya tersebut…*masih banyak maling kundang di jaman modern ini! Ugh!
Hingga akhirnya, kubiarkan si Ibu bercerita tentang permasalahannya itu, hal apa yang membebani tidurnya, langkahnya, dan aku katakan padanya, “Sok, mangga, ceritakan pada saya, semoga beban ibu berkurang…” Aku hanya menanggapi ringan-ringan saja, atau hanya tersenyum, mengangguk-angguk, menunggu kalimat selesai, kadang tertawa kecil dan terus terang, rasanya aku pasti tak akan sanggup memberikan nasihat pada ibu yang menderita dihadapanku ini selain membiarkan aku menjadi tong sampah baginya. *Seandainya ibu itu tahu, pikirku, dokter yang di hadapan ibu ini memiliki problem yang hampir sama. Bangkrut dan banyak hutang! Keadaan dokter yang dihadapan ibu, yang tertawa dan tersenyum dihadapan ibu, sibuk memikirkan, tar sepulang dari sini makan apa ya? rebusan waluh masih sisa ga ya? beras tinggal berapa liter lagi ya? ikan asin peda yang dibeli kemarin masih sisa ga? gimana bayar kosan akhir bulan ini? trus haruskah ke kampus jalan kaki untuk menghemat biaya, trus enura pura-pura kenyang lagi ga ya agar aku tidak kelaparan karena berbagi dengannya, tar enura gimana ngerjain tugasnya? aduuuuuh…gimana ini? dan celakanya lagi, kalo sakit gimana beli obatnya! * Ibu tersebut terus bercerita melewati batas waktu praktekku, dengan sungkan dia bilang, “Maaf telah merepotkan dokter dengan waktu konsultasi yang lama ini…” Lagi-lagi aku katakan, “Silahkan kalo masih ada yang mengganjal, Bu..” Ibu tersebut melanjutkan ceritanya dan senangnya beliau mengatakan akan bangkit dan memulai lagi, membuat aku pun termotivasi karenanya. *Aku tersenyum pada diriku, dalam hati aku berkata, ‘Sebenarnya akulah pasien itu Bu! dan hari ini sesungguhnya engkaulah dokterku! Entah mengapa, aku pun merasa agak baikan dengan cerita sang ibu, dan merasa bahwa aku akan bisa seperti ibu dan bangkit meraih mimpiku lagi, walau kadang mungkin tidak dapat dimengerti orang lain termasuk mungkin oleh saudara kita sendiri, seperti ibu ini, sang anak yang bersikap seolah-olah ibunya adalah seseorang yang pantas untuk disalahkan atas musibah yang menimpa ini, dengan mata berkaca-kaca kukatakan pada ibu, “Semangat Bu! Ibu pasti bisa dan putra ibu pasti kelak akan dapat mengerti, sekarang ini mungkin dia sedang dalam fase pengingkaran untuk kemudian menerima keadaan ini dan kondisi ibu sekarang.” Aku menyudahi sesi ini dengan mencoba mengecek ulang tensi sang ibu dan ternyata, there’s no problem with hipertension, the blood pressure become normal! So, aku kemudian menuliskan beberapa resep untuk membantu meringankan sakit kepala sang ibu dan tentunya tanpa obat antihipertensi, dan sang ibu kupesankan untuk kembali kontrol 3 hari lagi!
Setelah tiga hari, si Ibu kembali lagi dan dengan tensi darah yang normal, wajah yang berseri-seri dan dengan bangga mengatakan padaku bahwa, Agung, putranya yang dokter muda sudah mau mengerti kondisi mereka, meminta maaf pada mereka atas sikapnya yang kurang baik dulu. Dia ceritakan pula tentang kondisi usahanya sudah mulai lumayan. Aku lega, sungguh lega! Tak ada obat yang kuberikan pada pasien ini selain pendengaranku dan kata-kata dalam senyum dan canda. Si Ibu berkali-kali berterima kasih padaku. Lagi-lagi hanya kukatakan padanya, “Semangat Bu!” *Aku juga berterima kasih pada ibu karena ini membuatku berpikir untuk tidak bersedih dan menyerah dengan keadaan!
Dan sesungguhnya, bagi pasien, kata-kata dokter adalah sebagian dari obat, perhatian seorang dokter adalah sebagian dari proses penyembuhan. Aku jadi teringat dengan kata-kata sahabatku bahwa kata-kata yang baik yang kita lontarkan untuk orang lain tidak akan pernah kita sesali.
Hari berlalu, aku berpraktek di tempat yang sama, pasien datang dan pergi, dengan ragam penyakit dan problema. Suatu hari, datang lagi si Ibu, kali ini hanya mau memperkenalkan sang Suami kepadaku, pak Imam, sang pengusaha Tahu, agar dapat ngobrol-ngobrol saja denganku. Gubrak! ![]()
Juli 31, 2008 at 1:29 pm
kadang kita tidak menyadari kalau Alloh itu menjawab doa-doa kita dan menyadarkan kita melalui orang lain, banyak hikmah dari tiap peristiwa jika kita mau berpikir.
Yup,,,perhatian dan motivasi,itu yang sering dilupakan dokter saat ini padahal bisa jadi itu akan mengurangi rasa sakit paling tidak beban pikiran.
Juli 31, 2008 at 3:42 pm
thanks has visited me here…:)
Agustus 2, 2008 at 12:24 pm
life goes in such a funny way 9if we dont understand it)
how many times we face the similar kind of situation, putting someone else who has exactly the same kind of problems in fornt of us and even seek for our understanding.
i guess this might be a way given from Allah to show us that we are not alone and we can learn something from them.
btw : way the go mbak lily, you do can tell an experience well, u write well, i guess this is another talent that u have
u might want to try to send an article to a magazine or so
i am sure they’ll love it
salam
i
Agustus 18, 2008 at 12:59 pm
hahaha, ternyata mak cik ku ini berbakat jg menjadi psikolog…
tapi mak, honestly, itulah yg aku sangat kagumi dari profesi seorang dokter… tidak hanya bisa menyembuhkan fisik yg sakit, tp juga jiwa/mental yg sakit… terlepas dari cerita di atas klo mak cik yg merasa bahwa si Ibu Imam juga memberikan pencerahan kpd mak cik… anggap saja Allah SWT memang menciptakan manusia itu unt saling mengingatkan, entah sengaja (niat menasehati) ataupun tdk sengaja (lha wong mau curhat kok malah jadi ngasih pencerahan…)
kadang mak…. kita berdialog dgn diri kita sendiri pun bisa secara gak sadar dpt memberikan jawaban atas keluh-kesah kita….
salam…