Ibu adalah kata sakti. Ibu adalah tempat berlindung. Ibu, seperti kata Al Quranul Karim, tinggi. Ibu bagiku segalanya. Aku ingin membahagiakannya. Aku ingin ibu bangga padaku. Kata-kata ini terdengar seperti kata-kata seorang anak kecil. Sangat Childish! But bagiku, aku ingin tetap menjadi anak kecil baginya. Aku ingin ibu merasakan bahwa aku selalu membutuhkannya di setiap masaku, meski saat ini aku tak belia lagi. Aku telah cukup merasa dewasa untuk memutuskan segalanya sendiri. Bahkan aku sering dipercaya untuk memutuskan dan memberikan solusi bagi masalah-masalah yang menimpa orang lain. Kata-kataku di kamar praktek adalah sebagian obat bagi pasienku. Tapi aku ingin merasa aku tetap membutuhkan ibuku di sepanjang langkahku. Aku ingin ibu merasa hebat karena aku, anaknya yang dokter, tak pernah berpaling darinya meski aku telah berpendidikan tinggi dan berpengetahuan luas (cieee…!!!)

Ibu, tak ingin kusakiti hatinya meski kadang ibu terasa tidak cukup adil membagi kasih sayangnya pada kami semua. Namun haruskah kita mendebat cinta ibu? Haruskah kita menuntut cinta ibu kita? Ibu hanya satu, sedang cintanya harus dibagi rata kepada kita semua. Aku rasa ibu kita sudah sangat berusaha dengan cinta yang harus beliau bagi itu. Dan kita harus sadar dan menerima bagian kita dengan hati lapang. Tidak ada anak emas atau anak perak. Cinta adalah kecenderungan. Cinta adalah dua hati. Cinta bukan soal berapa banyak materi yang telah kita berikan pada ibu kita untuk membantunya. Bukan soal suapan-suapan nasi yang kita sumbangkan setiap bulannya. Cinta adalah perasaan. Cinta bukan kalkulasi matematis. Cinta itu magis, yang menarik hati seseorang untuk saling mendekat, untuk saling membutuhkan satu sama lain. Andai saudara kita lebih dicintai ibu kita barangkali saudara kita itu lebih mencintai ibu kita dibandingkan kita. Setiap anak manusia yang lahir pasti membawa karakter mereka sendiri. Setiap kita berbeda satu sama lainnya meski berasal dari jalur genetik yang sama. Itu alamiah. Ibu tahu itu dan ibu dapat merasakan cinta anak yang lebih dibandingkan yang lain karena dari rahimnya lah kita berasal, dari darahnya lah kita memulai hidup!

Maka, Ibu, terima kasih telah mencintaiku dengan sangat dalam seperti apapun caramu membesarkanku. Air susumu telah menguatkanku. Keringatmu telah mengasuhku. Deritamu telah melindungiku. Kebahagiaanmu telah mewarnaiku. Darahmu mengalir ditubuhku. Ibu, tidak ada alasan untuk tidak mengutamakanmu. Luv u so much my mom. Engkaulah wanita terbaikku!