Trus, untuk siapa dan untuk apa dedicated blog (weblog) ini kami buat?

“… ini lebih ditujukan untuk membantu puskesmas (pusat kesehatan masyarakat) yang merupakan pusat layanan kesehatan primer, yang merupakan ujung tombak pelayanaan kesehatan di Indonesia. Semoga usaha-usaha ini dapat membantu puskesmas menyiapkan dirinya di era komputer dan teknologi ini…”

Adakah sarana berbagi lainnya untuk mendorong praktisi kesehatan berpartisipasi dalam e-Health?

“…sarana pertemanan facebook, email, chatting dengan yahoo messenger, IT-talk-nya gmail, ato skype juga dapat dipergunakan dalam memperlancar pembelajaran dan komunikasi antarpuskesmas, pokoknya any sarana yang (kalo bisa) gratisan (hehehe) dapat kita manfaatkan untuk kemajuan pelayanan kesehatan di puskesmas”

Maka, partisipasi kita semua sangat diharapkan untuk memberikan ide2 segar di bidang e-health ini…

Wow!!! ternyata udah lama juga ga mem-posting di blog ini…hehehe…

Pada kesempatan kali ini, saya ingin ngomong-ngomong sedikit masalah e-health yang saya tekuni baru-baru ini, yah kira-kira setahun-dua tahun belakangan ini.

Well, e-health di Indonesia boleh dikatakan masih merupakan bidang baru, lalu, apa siy e-health itu? Secara harfiah e-health itu adalah e : electronic (elektronik, red), health : kesehatan.

Sekarang, mari kita tinjau kepustakaan mengenai definisi e-health berikut ini:

“The term e-Health refers to Internet-mediated access to health care service, product, and capabilities (Mc. Lendon, 2000)”

Lebih luas lagi :

“e-Health is the use of information and communication technologies to transfer medical information for delivery of clinical services to patients in their place of domicile (Norris, 2000)”

Terakhir (yang lebih luas digunakan):

“E-health refers to all form of electronic health care deliver over the internet, ranging from international, educational, and commersial “products” to direct service offered by professionals, nonprofessional, businesses or consumers themselves.”

So, Internet-based e-health operates anywhere, anytime, and with anyone.

Tidak bisa dipungkiri kehadiran teknologi ini sudah sampai pada pemanfaatan jaringan internet dan jaringan telepon bergerak untuk membantu pengiriman informasi kedokteran menjadi lebih cepat. Dan tentu, membawa konsekuensi perubahan di bidang kedokteran dan pelayanan kesehatan. Terutama di negara-negara maju. Namun demikian, tidak berarti tidak di negara kurang maju dan tidak maju sekalipun.

Teknologi telah menembus batas benua…

So, marilah kita para praktisi kesehatan mempersiapkan diri kita untuk menyambut dan berpartisipasi dalam bidang ini untuk pelayanan kesehatan masyarakat yang lebih baik…untuk peningkatan kualitas hidup bangsa ini…

Mulailah dari mengenal lebih dekat ICT (Information, Communication and Technology), mulailah kita ‘berkenalan’ dengan komputer dan aplikasinya yang dapat memperingan pekerjaan kita sebagai praktisi kesehatan…

Yuk mari yuuuukkk….!!!

Aku punya hobi baru, yaitu menonton film-film korea. Belakang-belakang ini aku berusaha mengumpulkan koleksi film-film korea temen-temen kosku yang dulu najis kutonton. *sombong banget ya aku?* Dulu, nonton film korea haram hukumnya. Cuih! Mereka dulu sibuk meracuniku dengan segala pernak-pernik korea, “Mba, aktor-aktornya kan lucu ngegemesin gitu tuh mba…”, rayu mereka gencar, yang selalu kutolak setengah mateng. *kasihan kan mereka kalo kutolak mentah-mentah.* Pura-pura positioning mapan bersama mereka menonton, yang diikuti aksi ketiduran. Hihihi. “Yang ini lucu deh jalan ceritanya, mba ga rugi deh kalo menontonnya.” Yang kujawab dengan senyum, “Ga deh dek, mba masih harus ngerjain kerjaan lain.” *Gila aja aku disuruh nonton film ga penting, selucu-lucunya film korea mah pastilah ada adegan yang menguras air mata, males banget!*

Coba kalian inget-inget modus operandi film korea? Coba bayangin! Pernah juga kan sesekali nonton? Kayak aku ini, baik dengan motif dipaksain temen-temen, ato sedang tayang di tipi swasta, ato coba-coba ngintip nonton, ato malah diracuni dengan aksesoris korea, gaya baju, gaya rambut, lagu korea, buku, kotak pinsil, dan lain-lain. Pokoknya, menurutku korea movies adalah it’s about tear! *fuihhh cemen ahhhh!! Rata-rata film korea nyeritain pasangan yang saling mencintai dengan penuh lika-liku, ada yang ga direstui gara-gara status (refer ke Hwang Jin I yang tayang di Indosiar beberapa waktu lalu) akhirnya terpisahkan karena maut yang didahului sakit. Tahukan sakitnya apa? Kanker darah, leukemia! *Dari jaman dulu sampe sekarang leukemia ngetop kali di Korea, perlu diteliti tuh. Hehehe.* Ada yang terpisah karena mereka bersaudara, kayak yang di Endless Love, namun setelah mereka saling tahu ternyata mereka tidak bersaudara, bayi ketuker ceritanya, dan jadi halal mencintai, trus lalu jadi terpisah karena orang tua dan saudara kandung yang tidak baik yang menyulitkan cinta, tetep aja berujung pada kematian. Karena leukemia pasti! Ugh, klise! Coba aja perhatiin sendiri drama korea, gitu deh pokoknya…Nangis, nangis, nangis…Huhuhu…

But now, aku banyak menonton film korea, tiada waktu tanpa film korea! Sekarang aku selalu buru-buru pulang, hanya untuk menonton aksinya Ye Jin Son, In Seong Jo, Kim Jae Won, Ha Ji Won, Song Hye Kyo, Yoo Ji Tae, dan sederet aktor dan aktris yang beradu akting menguras air mata pemirsa. Bahkan aku mulai hafal beberapa kata dalam bahasa korea, misal, ”Oppa…!!” (kakak cowok, red), Anyi (Kakak cewek), Kang ja (gila) ”Anyong haseo?” (Apa kabar, red). Hehehe. Lagu-lagu dan instrumen korea mulai menghiasi list winamp-ku yang berasal dari soundtrack film. Pokoknya sekarang aku jadi fanatik dan maniak film korea! *Kena karma kali! Hehehe.* Film korea sekarang adalah film pentingku! Alasannya adalah karena aku membutuhkan mengeluarkan air mata. Kurasa dan terbukti film korea dapat membantuku, menemaniku menangis bersama. *Kata pak guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila, red) waktu SD dulu, kita ini kan makhluk sosial, tak bisa hidup sendiri, jadi aku pun butuh teman untuk menangis bersamaku. Hihihi.*

Akhir-akhir ini, segala masalah singgah dihidupku, ketika penat mendera jiwa, ketika aku merasa tak seorang pun mengerti, ketika aku merasa sangat kesepian, ketika aku tak mampu meminta seseorang datang untuk menemaniku, sedih menyaksikan semua yang tak mampu kugapai, ketika tangisan menjadi lagu sunyi di dasar hatiku, aku merasa aku telah sakit. Aku perlu menangis, menangisi apapun yang terjadi. Ketika aku tak dapat bercerita mengapa aku menangis, tanpa perlu menjelaskan apa-apa, akan dengan mudah kukatakan, ”Film koreanya sedih banget, aku jadi ikutan sedih…”

Bandung, 6 Agustus 2008

Dari ruang praktekku, ingin kuceritakan sepasang suami istri yang hebat. Pak Imam dan Bu Imam. Pada sesi pertama bertemu dengan sepasang suami istri ini adalah ketika sang istri mengeluh pusing dan setelah dicek terteralah tensi darah yang meningkat menjadi 140/90. Dan sebelumnya menyatakan tensinya 160/90. Diagnosisnya: Hipertensi grade I. Kemudian pasien tersebut aku periksa dengan seksama. Dilakukan anamnesis dan akhirnya terkejarlah suatu permasalahan yang cukup serius yang menjadi akar munculnya pusing kepala, hipertensi dan gelisah tadi. Oh my good! Si Ibu adalah seorang pengusaha yang bangkrut, yang tadinya memiliki sebuah pabrik tahu di Karawang dengan 300 karyawan dan memiliki kantor pusat di Jakarta serta pemasaran yang cukup luas di Jabotabek. Bangkrut dan rusak usahanya karena isu pengawet formalin pada tahu yang santer beberapa tahun belakangan ini. Bayangkan! Sebegitu mudahnya Alloh membalikkan keadaan, dari yang kaya raya (definisi kaya itu bukan sesorang yang bergaji 40juta tetapi seorang yang mampu menggaji orang lain 40juta, begitukah?) menjadi jatuh miskin begitu saja! Sulitnya lagi, anak-anak mereka tidak mau mengerti keadaan ini dan cenderung menyalahkan orang tua mereka atas kebangrutan tersebut. Sang anak, yang paling kencang mengkonfrontir kedua orang tua tersebut adalah seorang dokter muda dari fakultas kedokteran universitas negeri di Bandung ini. Tidak bisa menerima keadaan orang tuanya karena telah terbiasa dengan kemewahan sejak kecil (ditambah lagi dia akhirnya diputusin oleh sang pacar karena tongkrongan sang cowok udah beda-dari tadinya mobil, lengkap dengan AC lalu sekarang hanya motor bebek saja…*duhhh kasihannya! Sang calon dokter tidak mau memeriksa sang ibu, tidak mau menensi ataupun mengontrol tensi sang ibu karena tidak suka keadaan ibunya tersebut…*masih banyak maling kundang di jaman modern ini! Ugh!

Hingga akhirnya, kubiarkan si Ibu bercerita tentang permasalahannya itu, hal apa yang membebani tidurnya, langkahnya, dan aku katakan padanya, “Sok, mangga, ceritakan pada saya, semoga beban ibu berkurang…” Aku hanya menanggapi ringan-ringan saja, atau hanya tersenyum, mengangguk-angguk, menunggu kalimat selesai, kadang tertawa kecil dan terus terang, rasanya aku pasti tak akan sanggup memberikan nasihat pada ibu yang menderita dihadapanku ini selain membiarkan aku menjadi tong sampah baginya. *Seandainya ibu itu tahu, pikirku, dokter yang di hadapan ibu ini memiliki problem yang hampir sama. Bangkrut dan banyak hutang! Keadaan dokter yang dihadapan ibu, yang tertawa dan tersenyum dihadapan ibu, sibuk memikirkan, tar sepulang dari sini makan apa ya? rebusan waluh masih sisa ga ya? beras tinggal berapa liter lagi ya? ikan asin peda yang dibeli kemarin masih sisa ga? gimana bayar kosan akhir bulan ini? trus haruskah ke kampus jalan kaki untuk menghemat biaya, trus enura pura-pura kenyang lagi ga ya agar aku tidak kelaparan karena berbagi dengannya, tar enura gimana ngerjain tugasnya? aduuuuuh…gimana ini? dan celakanya lagi, kalo sakit gimana beli obatnya! * Ibu tersebut terus bercerita melewati batas waktu praktekku, dengan sungkan dia bilang, “Maaf telah merepotkan dokter dengan waktu konsultasi yang lama ini…” Lagi-lagi aku katakan, “Silahkan kalo masih ada yang mengganjal, Bu..” Ibu tersebut melanjutkan ceritanya dan senangnya beliau mengatakan akan bangkit dan memulai lagi, membuat aku pun termotivasi karenanya. *Aku tersenyum pada diriku, dalam hati aku berkata, ‘Sebenarnya akulah pasien itu Bu! dan hari ini sesungguhnya engkaulah dokterku! Entah mengapa, aku pun merasa agak baikan dengan cerita sang ibu, dan merasa bahwa aku akan bisa seperti ibu dan bangkit meraih mimpiku lagi, walau kadang mungkin tidak dapat dimengerti orang lain termasuk mungkin oleh saudara kita sendiri, seperti ibu ini, sang anak yang bersikap seolah-olah ibunya adalah seseorang yang pantas untuk disalahkan atas musibah yang menimpa ini, dengan mata berkaca-kaca kukatakan pada ibu, “Semangat Bu! Ibu pasti bisa dan putra ibu pasti kelak akan dapat mengerti, sekarang ini mungkin dia sedang dalam fase pengingkaran untuk kemudian menerima keadaan ini dan kondisi ibu sekarang.” Aku menyudahi sesi ini dengan mencoba mengecek ulang tensi sang ibu dan ternyata, there’s no problem with hipertension, the blood pressure become normal! So, aku kemudian menuliskan beberapa resep untuk membantu meringankan sakit kepala sang ibu dan tentunya tanpa obat antihipertensi, dan sang ibu kupesankan untuk kembali kontrol 3 hari lagi!

Setelah tiga hari, si Ibu kembali lagi dan dengan tensi darah yang normal, wajah yang berseri-seri dan dengan bangga mengatakan padaku bahwa, Agung, putranya yang dokter muda sudah mau mengerti kondisi mereka, meminta maaf pada mereka atas sikapnya yang kurang baik dulu. Dia ceritakan pula tentang kondisi usahanya sudah mulai lumayan. Aku lega, sungguh lega! Tak ada obat yang kuberikan pada pasien ini selain pendengaranku dan kata-kata dalam senyum dan canda. Si Ibu berkali-kali berterima kasih padaku. Lagi-lagi hanya kukatakan padanya, “Semangat Bu!” *Aku juga berterima kasih pada ibu karena ini membuatku berpikir untuk tidak bersedih dan menyerah dengan keadaan!

Dan sesungguhnya, bagi pasien, kata-kata dokter adalah sebagian dari obat, perhatian seorang dokter adalah sebagian dari proses penyembuhan. Aku jadi teringat dengan kata-kata sahabatku bahwa kata-kata yang baik yang kita lontarkan untuk orang lain tidak akan pernah kita sesali.

Hari berlalu, aku berpraktek di tempat yang sama, pasien datang dan pergi, dengan ragam penyakit dan problema. Suatu hari, datang lagi si Ibu, kali ini hanya mau memperkenalkan sang Suami kepadaku, pak Imam, sang pengusaha Tahu, agar dapat ngobrol-ngobrol saja denganku. Gubrak!

Aku habis baca buku kumpulan posting blog nya si dewi ‘dedew’ rieka judulnya “Anak Kos Dodol”. Hmmm…membacanya membuat aku tertawa terpingkal-pingkal hingga dadaku yang kena stang motor sehabis tabrakan beberapa hari lalu jadi tambah sakit. Banyak ceritanya yang dulu kualami waktu jaman-jamannya nge-kos di Solo bareng anak-anak dodol itu. Memang dodol! (Aku ikut-ikutan si dedew menyebut mereka dodol!) Beraninya koar-koar dalam kosan doang! Omongan mereka gayanya kayak cewek ga bener yang jagoan meladeni pria-pria, genit, mesum, dan lain-lain yang biasa mereka tonton rame-rame di ruang tipi kos. Tapi kenyataannya, kalo udah ngelihat mereka berbaur dengan temen-temen mereka di kampus…beuhhhh…tampang dodol mereka keluar, culun, yang aslinya emang culun. Dasar jagoan kandang! Rasain no digodain cowok beneran malah mengkeret! Hahaha…But with them, So sweet memories indeed…!!

Persaudaraan yang terjadi di kos-kosan yang seperti terkutuk sama anak-anak dodol nan mesum itu masih berlanjut hingga hari ini (maksudnya sampai mati pun mungkin ga akan bisa lepas dari mereka yang setengah gila itu! Kalo gila beneran sih gampang! Tinggal kerangkeng aja. Tapi kalo setengah waras setengah sinting? Siapa juga kuat ngeladeninya?!!?). Kadang mereka itu ada-ada aja ulahnya, mulai dari telpon tengah malam gara-gara mereka ga bisa tidur yang pingin diceritain apa aja sebelum bobo (kebiasaan begadang seh..!! hehehe) , “Lilay, aku dibelai-belai dong…!!!” Ga bisa tidur ney…” telepon dari salah satu anak dodol itu di mengagetkanku di tengah malam buta (*bah!! kau pikir aku apa minta dibelai2 segala??? ada-ada aja!” pikirku dalam hati, “dasar dodol!” Disana, seringnya nama jadi berganti sesuai isi dodol mereka, ada juga yang dipanggil Mas, Tante, Nenek, Kakek, Anti, dan karena nama julukan ini aku kadang sampai lupa nama asli mereka*). Nah balik lagi pada telepon  dodol tengah malam tadi. Hehehe… Ga peduli aku lagi capek keq ato sedang jaga malam keq, tetep aja masih ngerengek-rengek ga penting nan mesum bikin setengah gemes setengah ga tega. Ya…namanya orang setengah, hukumnya wajib dilayani! Dengan terkantuk-kantuk aku ladeni si nduty manja itu, “Ada apa, Sayang? Kenapa ga bisa tidur?” Jawabku berusaha menjinakkan temenku tadi , dan…curhatnya…“bla..bla..bla..” yang kutanggapi dengan “hmmm”…”ya…ya..ya..” doang dan selanjutnya, “Lilay, lilay, lilay…” Dan klik! hapenya di matiin. Hehehe…aku ketiduran dan dia kubiarkan nyerocos sendiri sampe capek. Tar kalo udah capek paling tidur sendiri. Hehehe…

Seperti yang dedew ceritakan di bukunya itu, hal yang menyenangkan dari anak-anak dodol itu ketika ada yang ulang tahun, wisuda, masuk koass, ritualnya bermacam-macam, dari nyuekin yang ultah sampe termehek-mehek, ngobrak-ngabrik kamar, nggembosi ban motor, nyuri barang berharga mereka, nyiram ‘kembang plus’ *plus barang-barang yang njinjik’i, disambung bikin party bertema, seringnya ndeso, daster dengan kuncir dua ala emak-emak, sarungan ala petugas ronda, dan lain-lain sesuai dengan kreativitas yang melintas ga karu-karuan di otak mereka. Orang gila itu brutalnya minta ampun, ga peduli besok mau ujian, mau apa keq, ritual ya tetap ritual, tradisi harus tetap dilestarikan! Dasar setengah! Menghindar? Ingatlah akan azab yang lebih pedih! Hahaha…Ritual itu berakhir dengan traktiran makan-makan seadanya, mereka pasti memakannya dengan lahap bin rakus, habis itu cipika-cipiki dan di wajah temen kosan yang habis dikerjain itu tergambar, ‘Tunggu giliran ente berikutnya!’ ;) Pembalasan yang pasti menyenangkan bagi yang dikerjain meskipun setelah itu harus berjibaku membereskan kosan sehabis ritual…Yang lainnya? Ngusap-ngusap perut buncit mereka kekenyangan sehabis makan, sambil ngebleh-ngebleh nonton tipi ga toleransi ama yang ngebersihin kosan,,,deuuuuh…kejamnya dunia! Hehehe…

Namun, kebersamaan itu bukan hanya yang bersifat huru-hara, hura-hura begitu saja. Nilai mereka terasa  di setiap masa. Suka-duka, Begitu juga ketika ada musibah, dari dulu, aku ingat betul ketika ayahku meninggal dunia, mereka berame-rame membantuku sesuai dengan kapasitas mereka, ada yang cuma bisa menghibur saja, ikut sholat gaib, baca yasin, ngasih makanan, minjamin duit, membiarkan aku memakai gas secara gratis untuk menggoreng kerupuk yang kujual lagi ama mereka, sampe nyembunyiin aku di kosan mereka biar ga ketahuan ibu kos aku tetap di sana dan ga bayar tentunya! (karena setelah ayahku meninggal aku ga bisa lagi bayar kosan dan ekonomiku morat-marit, ibu ga bisa ngirim jatah bulananku seperti sebelumnya). It’s so meaningfull for me…hingga kita sudah sama-sama lulus dan meninggalkan kosan, solidaritas itu tetap terjaga. Ketika ada gempa Jogja beberapa tahun yang lalu, kita melakukan jarkom via sms untuk mengumpulkan sekedarnya bantuan untuk temen kosan kita yang terkena waktu itu.

Masalah berantem? Bikin Kubu? Ya…pastilah ada hal-hal yang demikian, but…kalo udah berat masalahnya, kita kembali ke MOTTO: SING WARAS NGALAH! (Yang Waras Mengalah, Red), TOK NO WAE (Biarin Aja, Red), Tar paling kalo ada Party lagi baikan lagi…Hehehe…

Persaudaraan. Persaudaraan. Persaudaraan. Itulah yang selalu kita jaga bersama hingga kini. Aku tak pernah merasa berpisah dari mereka meski sekarang kita sudah berpencar di belahan bumi mana pun, di Aussie, Jakarta, Kalimantan, Banten, Jogja, Solo, dan lain-lain. Berharap suatu hari nanti kita bisa reuni dan membuktikan kegilaan kalian itu sifatnya menetap alias takdir! Hahahaha…Menyenangkan. Suer, It’s nice, Guy!

Bagaimana dengan kosan di Bandung? Hmmm…Biarkan aku ngerasain dulu seperti apa rasanya ya?

Suatu masa ketika aku sedang sangat membutuhkan dana untuk kelancaran studiku, aku berusaha mencari pinjaman ke mana-mana. Aku mengetik pesan pendek kepada sahabat-sahabatku, aku menelpon beberapa kerabat berharap mereka dapat meminjamkan uang kepadaku saat itu. Salah satu sahabat yang kutuju adalah Lisa.

Aku ingin menceritakan tentang Lisa ini karena dia sangat membuatku terkesan. Malam hari itu aku mengetik short message kepada Lisa untuk meminjam dana sekitar 1 juta rupiah darinya dan Lisa langsung membalas sms-ku yang menanyakan berapa nomor rekeningku. Aku pun menjawabnya segera karena sedang membutuhkan dana itu segera.

Keesokan paginya sekitar jam 8-an aku mendapat sms darinya, begini bunyinya (Mbah adalah panggilan akrab temen-temen kuliahku dulu, red) :

Mbahku sayang, aku sudah kirimkan uang yang mbah butuhkan pagi ini. Inilah yang bisa kubantu pada mbah saat ini karena segitu lah sisa tabunganku, semoga dapat membantumu, mbah”

Mataku berkaca-kaca membaca sms darinya. Aku menatap layar ponselku berkali-kali sambil membayangkan keadaan dirinya yang sedang bertugas sebagai dokter PTT nun jauh di pedalaman Kalimantan dengan sisa uang yang segitu-gitunya, namun masih dipinjamkannya untukku. Aku tahu persis seperti apa nasib para dokter yang sedang PTT karena aku pernah menjalani tugas pengabdian sebagai dokter PTT itu. PTT adalah Pegawai Tidak Tetap, seperti singkatannya, semuanya tidak tetap terutama menyangkut duit. Tangisku luruh seketika. Mengapa tadi malam dia tidak mengatakan bahwa dia tidak punya uang lebih untuk dipinjamkannya padaku sehingga aku dapat mencari kandidat lain? Mengapa dia langsung mengulurkan tangannya padaku? Ah, Lisa! Kita hampir tidak pernah bertemu sejak 4 tahun yang lalu, kita hanya berhubungan via sms. Namun ternyata engkau tetap ada di saat-saat sulitku, tidak berubah. Aku terharu. Aku belajar hari ini padamu, tentang persahabatan, ketulusan dan kepercayaan, juga pengorbanan. Namun, apa yang harus kuperbuat dengan uang ini? Aku bingung dan merasa bersalah dengan keadaan ini. Lalu, bayangan keadaanku yang membutuhkan dana itu menggerakkan aku menarik tunai transfer dari Lisa dan menggunakan sesuai kebutuhanku seperti isi pesan pendeknya padaku, seperti kepercayaannya padaku. Aku tidak akan mengecewakanmu, Lisa. Aku akan menggunakannya, pasti! Dan akhirnya aku membalas pesan pendeknya itu dengan:

”Terima kasih Lisa, sahabatku, atas kepercayaan ini, semoga aku dapat segera mengembalikannya dan semoga aku dapat segera keluar dari permasalahanku..“

Bandung, Juni 2008

Ibu adalah kata sakti. Ibu adalah tempat berlindung. Ibu, seperti kata Al Quranul Karim, tinggi. Ibu bagiku segalanya. Aku ingin membahagiakannya. Aku ingin ibu bangga padaku. Kata-kata ini terdengar seperti kata-kata seorang anak kecil. Sangat Childish! But bagiku, aku ingin tetap menjadi anak kecil baginya. Aku ingin ibu merasakan bahwa aku selalu membutuhkannya di setiap masaku, meski saat ini aku tak belia lagi. Aku telah cukup merasa dewasa untuk memutuskan segalanya sendiri. Bahkan aku sering dipercaya untuk memutuskan dan memberikan solusi bagi masalah-masalah yang menimpa orang lain. Kata-kataku di kamar praktek adalah sebagian obat bagi pasienku. Tapi aku ingin merasa aku tetap membutuhkan ibuku di sepanjang langkahku. Aku ingin ibu merasa hebat karena aku, anaknya yang dokter, tak pernah berpaling darinya meski aku telah berpendidikan tinggi dan berpengetahuan luas (cieee…!!!)

Ibu, tak ingin kusakiti hatinya meski kadang ibu terasa tidak cukup adil membagi kasih sayangnya pada kami semua. Namun haruskah kita mendebat cinta ibu? Haruskah kita menuntut cinta ibu kita? Ibu hanya satu, sedang cintanya harus dibagi rata kepada kita semua. Aku rasa ibu kita sudah sangat berusaha dengan cinta yang harus beliau bagi itu. Dan kita harus sadar dan menerima bagian kita dengan hati lapang. Tidak ada anak emas atau anak perak. Cinta adalah kecenderungan. Cinta adalah dua hati. Cinta bukan soal berapa banyak materi yang telah kita berikan pada ibu kita untuk membantunya. Bukan soal suapan-suapan nasi yang kita sumbangkan setiap bulannya. Cinta adalah perasaan. Cinta bukan kalkulasi matematis. Cinta itu magis, yang menarik hati seseorang untuk saling mendekat, untuk saling membutuhkan satu sama lain. Andai saudara kita lebih dicintai ibu kita barangkali saudara kita itu lebih mencintai ibu kita dibandingkan kita. Setiap anak manusia yang lahir pasti membawa karakter mereka sendiri. Setiap kita berbeda satu sama lainnya meski berasal dari jalur genetik yang sama. Itu alamiah. Ibu tahu itu dan ibu dapat merasakan cinta anak yang lebih dibandingkan yang lain karena dari rahimnya lah kita berasal, dari darahnya lah kita memulai hidup!

Maka, Ibu, terima kasih telah mencintaiku dengan sangat dalam seperti apapun caramu membesarkanku. Air susumu telah menguatkanku. Keringatmu telah mengasuhku. Deritamu telah melindungiku. Kebahagiaanmu telah mewarnaiku. Darahmu mengalir ditubuhku. Ibu, tidak ada alasan untuk tidak mengutamakanmu. Luv u so much my mom. Engkaulah wanita terbaikku!

engkau menjelma menjadi cahaya
dalam hati hamba hamba
dengan serumpun cinta
pada pendar-pendar malam
yang hampir punah

engkau tabur ranum sujud
pada untai doa-doa muhammad
yang tidak pernah jemu-jemu merindu
sedang muhammad sungguh tahu
dialah kekasihmu

betapa malu aku pada cahaya
puas kutiduri malam berselimutkan kabut
kusisakan wajah-wajah kusut
di penghujung malam yang rumput-rumput
tak pernah lupa sujud

lelaki pertamaku
adalah seseorang yang memberiku
berjuta rasa
: cinta

seorang lelaki perkasa
gagah menuntun sepeda
menapaki bebukitan berbatu
demi sembuh kedua paruku

seorang lelaki romantis
sedu menangis
saat kehilangan sisa rupiah
menanti demamku reda dalam resah

seorang lelaki kaya
yang tidak pernah ingin menyuapiku
dengan iuran siswa
meski tetap ia gunakan menyulut sebatang rokok

seorang lelaki hipertensi
hebat menghujani dengan kata sakti
perbendaharaan yang menciutkan nyali
ketika panik menyaksikanku tumbuh jadi kuli
berbaur antara kuyup hujan dan terik mentari
antara percaya dan putus asa tak terperi
mampu menjadikanku wanita sejati

seorang lelaki ketakutan
saat kukatakan
aku diterima di fakultas kedokteran
karena khawatir aku terjatuh
menyadari betapa rapuh
rumah yang kita tempati bertahun-tahun
dalam cumbu kemiskinan yang merumbu

lelaki pertamaku
belum sempat menyaksikan putrinya
menjadi seorang wanita
yang kan menyinari setiap jiwa
selalu siap mengabdikan dirinya
untuk kekasih sang lelaki

lelaki pertamaku
telah pergi selamanya
karena kepapaan menghantarnya
pada penyakit yang tak mampu ia obati sempurna
menuju akhir perjalanan raga

Solo, sesaat setelah jadi dokter, awal 2005
Selalu ingin mengenang ayah

Kita harus tabah, maka jangan menyerah!
Inilah kehidupan yang dihamparkan bagi kita

Kadang menanjak naik,
Kadang turuni bukit

Kita lalui harum ketinggian pinus-pinus di puncak,
Menenangkan!

Sesekali kita rasakan lembab tanah di lembah-lembah yang dalam,
Menghenyakkan!

Ada tawa, bahkan tangis,
Musim yang datang silih berganti.

Merenda asa demi asa,
Dan semuanya milik kita.

Tak boleh ada bagian yang terlewatkan,
Tak perlu ada penyesalan.

Semuanya sedang berjalan seperti keinginan kita semula,
Hanya ada beberapa bagian yang perlu kita perbaiki.

Semuanya akan baik-baik saja,
Maka kita harus tabah, dan jangan menyerah!